FALSAFAH AL-MUHĪTH: KOSMOLOGI IBN ‘ARABĪ SEBAGAI BASIS EKOTEOLOGI ANTIKAPITALISTIK
Abstract
Abstrak: Krisis ekologi global yang diperparah hegemoni kapitalisme memerlukan respons berbasis spiritualitas transendental yang radikal. Solusi sekuler seperti kapitalisme hijau (greenwashing) terbukti gagal mengatasi akar masalah, sementara pendekatan fikih lingkungan (fiqh al-bī’ah) dalam studi Islam masih bersifat instrumental tanpa fondasi ontologis kuat. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam konsep al-Muhīt dalam kosmologi Ibn ‘Arabī sebagai basis ontologis ekoteologi antikapitalistik. Penelitian ini menggunakan hermeneutika filosofis terhadap teks primer (Futūḥāt al-Makkiyyah dan Fuṣūṣ al-Ḥikam) yang dipadukan dengan analisis kritis teori ekologi-politik (khususnya kritik "metabolic rift" dan "accumulation by dispossession"). Kosmologi al-Muhīt menegaskan: (1) Wahdat al-wujūd (kesatuan wujud) sebagai prinsip ontologis yang menolak eksploitasi alam. (2) Alam sebagai manifestasi (tajallī) Nama Ilahi yang sakral, bukan komoditas. (3) Logika akumulasi kapital bertentangan dengan prinsip mīzān (keseimbangan) dan khalīfah (penjaga alam). Studi ini menyediakan kerangka teoretis untuk, pertama, Gerakan ekologi Islam berbasis tauhid. Kedua kebijakan ekonomi berkelanjutan berbasis barakah (keberkahan) dan redistribusi. Ketiga, dekolonisasi wacana lingkungan dari paradigma antroposentris-kapitalistik.
References
Chittick, W.C. (1989). The Sufi path of knowledge: Ibn al-‘Arabī’s metaphysics of imagination. SUNY Press.
Foster, J.B. (2020). The return of nature: Socialism and ecology. Monthly Review Press.
Gade, A.M. (2019). Muslim environmentalisms: Religious and social foundations. Columbia University Press.
Harvey, D. (2005). The new imperialism. Oxford University Press.
Ibn 'Arabī. (n.d.). Al-Futūḥāt al-Makkiyyah (Jilid I, III, IV). Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Ibn 'Arabī. (n.d.). Al-Tadbīrāt al-Ilāhiyyah fī Iṣlāḥ al-Mamlakat al-Insāniyyah. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Ibn 'Arabī. (n.d.). Fuṣūṣ al-Ḥikam. Dār al-Kitāb al-‘Arabī.
IPCC. (2023). Climate change 2023: Synthesis report. Intergovernmental Panel on Climate Change.
Khalil, M.H. (2021). Eco-Sufism: Ibn ‘Arabī’s metaphysics of nature and environmental ethics. Journal of Islamic Ethics, *5*(1), 1–25. https://doi.org/10.1163/24685542-12340068
KLHK. (2023). Statistik deforestasi dan penguasaan lahan di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.
Lamb, W.F., et al. (2022). Discourses of climate delay. Proceedings of the International Conference on Climate Justice, 45–67. Cambridge University Press.
Lumbard, J. (2022). Ibn ‘Arabī’s cosmology and the Sufi concept of unity. Religions, *13*(2), 140. https://doi.org/10.3390/rel13020140
Majelis Ulama Indonesia. (2014). *Fatwa No. 04/2014 tentang pelestarian satwa langka untuk keseimbangan ekosistem*. MUI Pusat.
Nasr, S.H. (1996). Religion and the order of nature. Oxford University Press.
OXFAM. (2024). Inequality Inc.: How corporate power divides our world. OXFAM International.
Republik Indonesia. (2020). *Undang-Undang No. 3 Tahun 2020 tentang Minerba*. Lembaran Negara RI Tahun 2020.
Situmorang, R. (2023). Cultural genocide: Extractivism and indigenous rituals in Sulawesi. Journal of Political Ecology, *30*(2), 45–67. https://doi.org/10.2458/v30i2.51289
Walhi. (2023). Catatan akhir tahun: Krisis ekologi 2023. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.
World Bank. (2023). Land conflict and extractivism in the Global South. World Bank Group.
Zargar, C.A. (2023). The Green Shaykh: Ibn ‘Arabī’s eco-theology of interconnectedness. Philosophy East and West, *73*(1), 102–121. https://doi.org/10.1353/pew.2023.0005

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.






.jpg)



