Interkasi Simbolik Penggunaan Nama Panggilan di Kalangan Santri Pondok Pesantren Lirboyo Unit Darussalam
Abstract
Penelitian ini mengungkapkan bahwa manusia sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan kehadiran orang lain dalam menjalani kehidupannya. Interaksi sosial menjadi kunci utama terbentuknya dinamika sosial, termasuk dalam lingkungan pendidikan berbasis pesantren. Salah satu bentuk interaksi yang menarik untuk dikaji adalah penggunaan simbol-simbol sosial, salah satunya berupa pemberian nama julukan atau panggilan khusus. Di lingkungan pesantren, praktik penamaan ini memiliki makna sosial dan kultural yang kuat, terutama dalam penyebutan gelar bagi keluarga kyai. Julukan seperti Gus dan Ning, yang diberikan kepada putra-putri kyai, tidak hanya berfungsi sebagai identitas personal, tetapi juga mencerminkan status sosial, penghormatan, serta kedudukan mereka dalam struktur sosial pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memahami makna, fungsi, dan peran penggunaan julukan tersebut dalam interaksi sosial antarwarga pesantren. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi mendalam, wawancara dengan santri, pengasuh, serta pihak-pihak yang memahami tradisi pesantren, dan juga melalui studi dokumentasi terhadap berbagai sumber tertulis maupun arsip pesantren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian nama julukan tidak hanya menjadi simbol penghormatan, tetapi juga menjadi medium komunikasi yang memperkuat hubungan sosial, menciptakan hierarki yang jelas, serta membentuk identitas budaya pesantren. Dengan demikian, interaksi simbolik melalui pemberian julukan seperti Gus dan Ning berperan penting dalam mempertahankan tradisi, membangun kohesi sosial, dan melestarikan nilai-nilai budaya dalam masyarakat pesantren.





