Refleksi Gaya Parenting: Pembelajaran Daring Pada Anak Usia Dini Selama Pandemi Covid 19
- Udin Erawanto Universitas PGRI Adhi Buana Surabaya
- Miranu Triantoro Universitas PGRI Adhi Buana Surabaya
Abstract
Gaya parenting selama pembelajaran daring dimasa pandemi Covid 19 menarik perhatian peneliti secara global. Setelah pandemi Covid-19, orang tua mendapatkan tantangan baru dalam parenting pada proses pembelajaran daring.terdapat perubahan pola asuh yang terjadi sebelum pandemi dengan selama pandemic Covid-19. Fenomena ini menjadi realitas global yang dirasakan secara luas. Tujuan riset ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran daring anak usia dini selama covid 19 dilihat dari refleksi gaya parenting. Penelitian ini dilakukan di Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Adapun sampel dalam penelitian menggunakan sampling jenuh yang berjumlah sebanyak 32 orang tua yang memiliki anak bersekolah di PAUD. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gaya pola asuh orang tua terhadap pembelajaran daring pada AUD di Masa Pandemi Covid 19 mayoritas orang tua masih ragu-ragu. Sebagaimana telah dikemukakan gaya pola asuh orang tua terbagi menjadi dua yakni permisif dan otoriter. Baik orang tua yang otoriter maupun permisif sama-sama memiliki gaya pola asuh yang belum siap dalam menghadapi pembelajaran secara daring. Dengan demikian, diharapkan pembelajaran daring pada anak AUD sebaiknya disesuaikan dengan materi yang mudah dipahami orang tua dan berfokus pada perubahan yang baik dalam belajar anak atau membuka wawasan diri untuk menerima pembelajaran daring tersebut.
Author Biographies
Mayoritas peserta didik terdaftar di dunia mengalami penutupan sekolah sementara selama pandemi COVID-19 dalam upaya menjaga jarak sosial dan memperlambat penularan virus (Viner et al., 2020). Hampir 200 negara dilakukan penutupan sekolah dengan lebih dari 90% peserta didik mulai dari prasekolah hingga pendidikan tinggi menghadapi ancaman terhadap proses pendidikan (UNESCO, 2020). Secara akumulatif, peserta didik sudah hampir satu tahun belajar online dari rumah.
Berdasarkan surat Surat Edaran nomor 4 tahun 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menerbitkan kebijakan berupa pelaksanaan pembelajaran di masa darurat Covid-19 dilakukan secara jarak jauh atau pembelajaran secara daring (Kemendikbud, 2020). Belajar online tidak sesederhana yang dibayangkan. Tantangan kurangnya komputer yang cukup, fasilitas internet, kurangnya akses peserta didik ke alat e-learning, biaya perangkat lunak yang tinggi, dan ketidakteraturan pasokan listrik merupakan tantangan yang signifikan (Aboderin, 2015).
Penutupan sekolah yang belum pernah terjadi sebelumnya telah mengubah kehidupan sehari-hari peserta didik, keluarga, dan para pendidik. Luar biasanya, lebih dari setengah miliar anak (Cohen & Kupferschmidt, 2020) menjadi pelajar virtual karena harus senantiasa berada dalam rumah sementara orang tua, saudara kandung, dan anggota keluarga lainnya mengambil peran baru sebagai fasilitator pembelajaran, guru semu, dan pelatih. Di masa pandemi Covid-19, keluarga yang belum maksimal menjalankan fungsi pendidikan akan mengalami kebingungan, kekhawatiran, kecemasan, stres dan ketakutan menghadapi berbagai tantangan yang dialami selama masa pandemi, terutama terkait dengan pola asuh anak dan pembelajaran dairng (Susilowati, 2021; Jannah & Santoso, 2021). Kondisi ini dapat menurunkan produktivitas pendidikan, baik dalam pelaksanaan pembelajaran, jam belajar, pelayanan dan hasil kerja lulusan (Midun et al., 2021; Coates, 2017). Penurunan produktivitas pendidikan selama pandemi disebabkan oleh siswa, guru dan lembaga pendidikan belum siap melakukan transformasi pendidikan dari offline beralih ke daring (Jalal, 2020; Novitasari & Asbari, 2020). Selain itu, orang tua juga belum menjalankan fungsi Pendidikan secara optimal, terutama orang tua yang belum memiliki literasi komputer-internet yang memadai (Allen, 2016; Lankshear & Knobel, 2016).
Secara umum, orang tua telah berperan dalam mendampingi anaknya school from home (SFH) selama masa Covid-19 (Susanto & Suyadi, 2020). Orang tua harus mencurahkan dengan penuh seluruh perhatian positif anak dan memastikannya (Singh et al., 2020). Keterlibatan orang tua dalam mendampingi belajar anak sebenarnya telah mengakar dalam budaya bangsa dan menjadi tripusat pendidikan yang dirintis oleh Ki Hajar Dewantara (Magta, 2013). Perkembangan kognitif dan neurokognitif, kepribadian, dan fungsi pendidikan juga sangat efektif dan sempurna bila dilakukan oleh orang tua dalam keluarga (Noble, 2015). Orang tua dalam keluarga juga menjadi pusat keteladanan, motivator, dan pemberi fasilitas kenyamanan belajar anak
Pola hubungan orang tua dan anak (sikap atau perlakuan orang tua dan anak) merupakan bentuk perlakuan orang tua terhadap anaknya dirumah yang mempunyai hubungan erat dengan kepribadian anak. Adapun sikap atau perlakuan orang tua menurut Hurlock antara lain: Over protection (terlalu
melindungi), Permissiveness (pembolehan), rejection (penolakan), Acceptance (penerimaan), domination (dominasi), Submission (penyerahan), Punitevennes/overdiscipline (terlalu disiplin) (Yusuf, 2006). Pola asuh dikembangkan berdasarkan komunikasi yang baik dan perhatian yang positif untuk membantu anak agar berkembang. Ketika orang tua berkomunikasi secara positif dengan anak, maka otak anak akan dinamis, responsif mau bekerjasama dan selalu berusaha dengan baik, mampu membuat pilihan dan menerapkan kebiasaan baru yang sangat baik untuk menggali segala potensi yang ada dalam diri anak (Darta, 2011). Komunikasi dengan lingkungan keluarga pada hakikatnya ikut menentukan arah dari perkembangan anak, yaitu peluang keserasian belajar pada setiap masa peka (Semiawan, 2008).
Pengasuhan dipandang paling bermanfaat bagi aspek perkembangan anak (Smetana, 2017). Psikolog menjelaskan bahwa pengasuhan anak meliputi interaksi orang tua-anak, hubungan orang tua-anak, keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak sehingga mampu membangun sosialisasi dan fungsi anak (Johari Talib & Mamat, 2011). Dimensi pengasuhan didefinisikan sebagai fitur, kualitas, skema deskriptif yang digunakan untuk menangkap sifat pengasuhan, mewakili kesatuan konsep pola asuh dibangun (Skinner et al., 2005). Perilaku dan praktik pengasuhan tertentu memengaruhi anak perkembangan dan merupakan bagian dari lingkungan pengasuhan yang lebih luas, disebut gaya pengasuhan (Vollmer & Mobley, 2013). Gaya pengasuhan pada awalnya dikonseptualisasikan sebagai transaksional terkait dengan social kompetensi, namun sebagian besar studi berfokus pada orang tua-ke-anak (Smetana, 2017). Pola asuh dapat memfasilitasi pertumbuhan yang optimal dan perkembangan anak (Olla et al., 2018). Intensitas sedang aktivitas fisik dapat mengurangi dampak negatif dari tekanan pengasuhan pada hubungan sosial dan kepuasan dengan lingkungan seseorang pada ibu bekerja selama COVID-19 pandemi (Limbers et al., 2020).
Pola asuh merupakan konsep yang dikemukakan oleh Baumrind, (1991) berdasarkan hasil penelitiannya tentang pola perilaku anak yang dibesarkan oleh orang tuanya. Ada empat jenis pola asuh, yaitu: (a) pola asuh otoritatif, (b) pola asuh permisif, (c) pola asuh terabaikan, dan (d) pola asuh otoriter. Riset menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan konsisiten antara gaya pengasuhan termasuk kesejahteraan diri, harga diri, kehatan dan perkembangan akademik. Senada dengan pendapat diatas, Thomas klasifikasi gaya komunikasi yang dilakukan oleh orang tua diseluruh dunia, termasuk di Indonesia antara lain: otoriter (memerintah, menakuti, mengancam menceramahi, menyuruh, berargumentasi, menghakimi, mengalah pada kemampuan anak, memberi cap, menganalisis, membandingkan, menyindir) dan permisif (memberikan jaminan membohongi) (Rani, 2012).
Gaya komunikasi yang digunakan orang tua membentuk gaya pengasuhan dalam mendidik anaknya. Umumnya, terdapat dua jenis gaya pengasuhan yang biasa digunakan orang tua misalnya orang tua yang terlalu ketat, terlalu disiplin, dan memperlakukan anak sebagai pihak yang harus patuh sepenuhnya. Gaya pengasuhan ini disebut gaya pengasuhan otoriter. Sebaliknya, ada orang tua yang terlalu membebaskan anaknya untuk melakukan apa saja sehingga orang lain bingung menghadapi perilaku buruk anaknya. Gaya pengasuhan ini disebut gaya pengasuhan permisif.
Tabel 1. Jenis Gaya Pengasuhan
Jenis Gaya Pengasuhan
Komunikasi Tradisional yang sering dilakukan
Otoriter
Memerintah, mengancam atau menakut-nakuti, menceramahi, menginterogasi, memberi cap, membandingkan, menghakimi, menyalahkan, mendiagnosis, memberi solusi, mengalihkan, menyindir, dan menghibur.
Permisif
Menjamin dan membohongi.
Diketahui pada saat ini, pembelajaran dilaksanakan melalui jaringan online. Pembelajaran daring merupakan sistem pembelajaran yang dilakukan dengan tidak bertatap muka langsung, tetapi menggunakan platform yang dapat membantu proses belajar mengajar yang dilakukan meskipun jarak jauh. Tujuan dari adanya pembelajaran daring ialah memberikan layanan pembelajaran bermutu dalam jaringan yang bersifat masif dan terbuka untuk menjangkau peminat ruang belajar agar lebih banyak dan lebih luas (Handarini, 2020). Oleh karena itu, peran orang tua dalam pembelajaran daring khususnya dari segi pola pengasuhan belum begitu banyak dikaji. Penelitian Yulianti menjelaskan bahwa bentuk peran orang tua sebenarnya adalah bentuk peran guru di sekolah. Peran orang tua adalah menjadi orang tua yang memotivasi dalam segala hal. Motivasi dapat diberikan dengan cara meningkatkan kebutuhan sekolah dan memberikan semangat seperti pujian atau penghargaan atas prestasi anak yang diperoleh anak. Dalam hal ini peran orang tua adalah membimbing dan memberikan motivasi kepada anak, agar anak tetap bersemangat dalam melakukan kegiatan di rumah. Pada dasarnya anak memiliki motivasi untuk melakukan suatu hal, apabila mendapatkan dorongan dari orang-orang terdekat seperti orang tua (Yulianti, 2014).
Besar kecil penghargaan yang diberikan kepada anak sangat berpengaruh bagi perkembangan anak. Orang tua juga bisa menjadi teman yang bahagia untuk belajar atau belajar. Selain itu, orang tua ditugaskan sebagai guru untuk mengajar dan mendidik anak-anak. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih sabar dalam mengajar dan membimbing sebagai tugas guru di sekolah. Dalam melaksanakan peran ini, orang tua saling melengkapi dan sangat membantu dalam memecahkan masalah dan kesulitan yang dihadapi anak di sekolah dan di rumah. Senada dengan pernyataan diatas, orang tua mempunyai peran dalam mengembangkan rasa percaya anak walau pun sebagian kecil masih ada yang mendampingi (Gusmaniarti & Suweleh, 2019).
Selain itu, pendapat Siregar (2013) menambahkan bahwa terdapat empat cara untuk meningkatkan peran orang tua dalam pendidikan anak. Pertama, mengatur jadwal kegiatan anak dan waktu anak. Anak-anak diajarkan untuk belajar tidak hanya ketika mendapatkan pekerjaan rumah dari sekolah dan saat menghadapi ujian, namun juga dilakukan setiap hari. Kedua, memantau perkembangan kemampuan akademik anak. Orang tua diminta memeriksa nilai tes dan tugas anak. Ketiga, memantau perkembangan kepribadian, termasuk sikap, moral, dan perilaku anak. Hal ini dapat dilakukan oleh orang tua dengan menghubungi guru kelas untuk belajar lebih banyak tentang aspek perkembangan anak di sekolah. Keempat, memantau efektivitas waktu di sekolah (Lilawati, 2021).
Sebagai salah satu pemangku kepentingan utama dalam proses pendidikan, pengalaman orang tua dengan anak-anak selama pembelajaran daring layak diteliti untuk menginformasikan pengambilan keputusan kebijakan di masa depan (Garbe et al., 2020). Dengan demikian, untuk mengetahui lebih jauh permasalahan yang terjadi, penulis menjabarkannya dalam penelitian dengan judul: “Gaya Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembelajaran Daring Pada AUD di Masa Pandemi Covid 19”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya pola asuh orang tua terhadap pembelajaran daring pada AUD di Masa Pandemi Covid 19.
- METODE
Penelitian ini merupakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Metode kuantitatif menurut Sugiyono (2017) dapat diartikan sebagai “Metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data
menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik.”
Penelitian ini dilakukan di Pekanbaru Provinsi Riau, mengambil populasi yang berjumlah sebanyak 32 orang tua yang memiliki anak di PAUD. Sampel adalah bagain dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampel jenuh, yakni seluruh anggota populasi dijadikan sampel penelitian. Analisis data yang digunakan adalah rumus persentase:
P =
Keterangan :
P = Tingkat persentase jawaban
F = Frekuensi jawaban
N = Jumlah sampel
(Sudijono, 2014)
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Rekapitulasi hasil tanggapan responden pada setiap butir pernyataan berkaitan dengan gaya pola asuh orang tua terhadap pembelajaran daring pada AUD di Masa Pandemi Covid 19 sebagai berikut.
Tabel 2. Gaya Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembelajaran Daring Pada AUD di Masa Pandemi Covid 19
No
Pernyataan
SS
S
R
TS
STS
M
1
Memerintah untuk belajar secara daring
8
5
2
16
1
3.09
2
Mengancam atau menakut-nakuti anak jika tidak belajar
7
7
7
9
2
3.25
3
Menceramahi anak
8
3
8
9
4
3.06
4
Memberi cap jika anak bandel
7
3
6
8
8
2.78
5
Membandingkan dengan anak yang lain
8
2
7
11
4
2.97
6
Menghakimi jika melakukan kesalahan
6
5
7
8
6
2.91
7
Menyalahkan
7
4
7
3
11
2.78
8
Memberi solusi
6
3
5
8
10
2.59
9
Menghibur jika menemui kesulitan
10
4
7
11
0
3.41
10
Mengalihkan perhatian
6
4
5
10
7
2.75
11
Menjamin
11
4
5
12
0
3.44
12
Membohongi agar belajar daring
5
5
7
12
3
2.91
Jumlah
89
49
73
117
56
35.94
Jumlah skor
445
196
219
234
56
2.99
Persentase (%)
23
13
19
30
15
Indonesia merupakan salah satu dari ratusan negara di dunia yang terdampak Covid-19. Pandemi berdampak pada proses pendidikan, ekonomi, sosial, pariwisata, dll penyebaran virus COVID-19 sangat cepat sasaran utamanya adalah masyarakat berusia >60 tahun dan anak usia dini, itu terjadi karena penurunan sistem kekebalan pada orang berusia > 60 tahun dan sistem imun yang belum sempurna yang terbentuk pada anak usia dini (WHO, 2020). Di masa pandemi Covid-19, orang tua lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dalam mendampingi kegiatan pembelajaran anak di rumah dikarenanya peran orang tua sangat diperlukan (Praherdhiono et al., 2020). Orang tua juga melakukan kontak dengan guru dan anak selama ini pandemi. Di masa pandemi bisa menjadi kesempatan emas bagi orang tua untuk berkreasi lebih banyak untuk membangun keterikatan yang sempurna dengan anak (Cesur et al., 2014). Mengingat panjangnya waktu yang dihabiskan bersama dalam masa pandemic. Orang tua perlu membuat waktu berkualitas dengan anak, untuk melakukan kegiatan bersama, seperti bermain, menanam, memasak, membersihkan rumah, beribadah maupun kegiatan lainnya (UNICEF, 2020). Kebersamaan antara orang tua dan anak sangat diperlukan untuk sarana interaksi, komunikasi, dan saling mengenal diri (Harmaini, 2013).
Keluarga adalah tempat pertama dan utama agar anak mendapatkan pendidikan, proses ini membutuhkan peran penting dari orang tua (Lo Cricchio, et al, 2019). Orang tua adalah seseorang yang bertanggung jawab atas keluarga atau pekerjaan rumah tangga yang dalam kesehariannya yang biasa disebut ayah dan ibu (van Nunen et al., 2015). Peran orang tua adalah perilaku berkaitan dengan orang tua dalam menduduki jabatan tertentu dalam lembaga keluarga yang berfungsi sebagai: pengasuh, pembimbing dan pendidik bagi anak (Yadav & Chandola, 2019). Menurut Dai & Wang (2015), menyebutkan fungsi keluarga terdirI dari dua aspek soft index antara lain: pemberian dukungan afeksi, adanya keterlibatan, control perilaku, penanaman nilai moral dan aturan, dan regid index meliputi bantuan pada problem solving, komunikasi dan pembagian tugas pada masing-masing anggota keluarga. Orang tua bisa mengajari anaknya sesuatu yang tidak didapatkan anak di sekolah, yaitu tentang kecakapan hidup (Hewi & Asnawati, 2020). Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak anak untuk merapikan tempat tidur, membuat mainan atau belajar mandiri, mengenal diri sendiri, mengungkapkan perasaan, tumbuh jiwa wirausaha anak sejak dini dan seterusnya. Kegiatan yang bervariasi dan inovasi dapat mengembangkan minat, bakat dan potensi yang dimiliki anak sehingga menghasilkan soft skill anak (Kurniati et al., 2020).
Selama pandemic, melakukan kegiatan bersama baik dalam bentuk permainan maupun kegiatan lain, dapat membantu anak untuk mengeksplorasi diri dan lingkungan sosialnya. Karena selama pandemic, anak telah kehilangan interaksi anak dengan teman sebayanya (Kumar & Nayer, 2020). Kebersamaan dan keakraban dalam melakukan kegiatan bersama dapat membangun suasana keluarga yang positif (Bluth & Wahler, 2011), terciptanya pengasuhan positif (Kurniati et al., 2020) sebagai wujud ungkapan kasih sayang, pemberian kenyamanan dan keamanan pada anak
Peran orang tua di masa pandemi juga telah dibuktikan oleh berbagai penelitian sebelumnya. Orang tua berperan sebagai mentor, pendidik, pengasuh, pengembang, dan pengawas (Kurniati et al., 2020). Dampak positif belajar dari rumah adalah orang tua dapat meningkatkan hubungan dengan anak dan dapat melihat secara langsung perkembangan kemampuan belajar anaknya (Cahyati & Kusumah, 2020). Belajar merupakan proses yang sangat rumit. Tidak hanya berfokus pada pencapaian prestasi, namun meningkatkan aspek perkembangan anak yang lebih kompleks, serta membangun karakteristik yang tepat. Belajar berkaitan dengan keterampilan umum, proses kognitif, emosi, motivasi, aspek perkembangan, kesiapan, pengalaman anak, lingkungan sosial, dan komunitas budaya merupakan variabel yang mempengaruhi proses belajar (Ozerem & Akkoyunlu, 2015).
Pada hakikatnya, orang tua menggabungkan materi dari guru dan dengan kreativitasnya. Pendidikan inovatif menjadi perhatian utama dalam mengasuh, mengajari dan mendampingi anak saat ini (Sáng, 2019). Orang tua menjadi guru pengganti kegiatan untuk menjamin terselenggaranya pembelajaran dan kerjasama pendidik (Harahap et al., 2021). Sedangkan parent dalam parenting memiliki beberapa definisi ibu-ayah, sosok yang akan membimbing dalam kehidupan baru, seorang penjaga, maupun seorang pelindung. Parent adalah seseorang yang mendampingi dan membimbing semua tahapan pertumbuhan anak, yang merawat, melindungi, mengarahkan kehidupan baru anak dalam setiap tahapan perkembangannya (Brooks, 2001 dalam Nooraini, 2017).
Perubahan model pembelajaran yang muncul tiba-tiba tak luput dari berbagai tantangan. Khususnya bagi peserta didik, guru, dan orang tua terhadap pembelajaran online termasuk mengalami perubahan emosional seperti: stres (Wang et al., 2020); cemas (Gritsenko et al., 2020) tantangan teknologi dan internet tantangan (Almaiah et al., 2020; Zhu & Liu, 2020) penurunan kesehatan mental dan motivasi (Raaper & Brown, 2020).
Berdasarkan uraian data hasil penelitian diketahui bahwa gaya pola asuh orang tua terhadap pembelajaran daring pada AUD di Masa Pandemi Covid 19 mayoritas orang tua masih Ragu-ragu. Sepertinya orang tua belum memahami tentang arti belajar. Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang pada dasarnya sangat beragam, baik sifat maupun jenisnya. Oleh karena itu, sudah tentu setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar. Demikian halnya dengan belajar secara daring. Sejalan dengan penelitian dari Daniel (2020) mengungkapkan orang tua cemas tentang masa depan anak, dukungan sekolah dengan motivasi rendah dapat menjadi tantangan.
Parenting dapat diartikan sebagai keorangtuaan atau pengasuhan orang tua, maksudnya adalah proses interaksi antara orang tua dengan anak. Kegiatan parenting meliputi memberi makan (nourishing), memberi petunjuk (guiding), dan melindungi (protecting) anak-anak. Kegiatan parenting umumnya dilakukan dalam keluarga, namun sekarang parenting tidak berarti yang melahirkan anak.
Pada awalnya parenting dipahami sebagai kemampuan orang tua untuk menyediakan waktu, perhatian dan dukungan kepada anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, baik fisik, mental (moral), dan sosial (Soekirman, 2000). Namun dalam perkembangan selanjutnya, konsep parenting adalah lebih luas dari kesediaan (waktu) orang tua untuk mendidik anaknya. Pengasuhan berhubungan dengan fungsi pendidikan yang dimiliki orang tua dalam keluarga. Oleh karena itu, pola asuh berhubungan dengan pendekatan, metode dan strategi yang digunakan orang tua dalam mendidik anaknya. Model pola asuh (pendekatan, metode, strategi) bagi anak sangat mempengaruhi kognitif, perkembangan mental, dan sosial anak. Penelitian yang dilakukan (Christner, et al, 2021) mengungkapkan bahwa banyak anak yang mengalami stres saat belajar di rumah, bukan hanya karena tidak bisa bertemu dan bermain dengan teman-teman di sekolah, namun juga karena orang tua belum menemukan cara terbaik membimbing untuk belajar.
Parenting juga dapat dilakukan di masyarakat diantaranya melalui PAUD, pengasuhan bayi (baby daycare ataupun menggunakan jasa baby sitter) maupun melalui media massa. Parenting yang baik adalah membangun relasi (hubungan) yang hangat antara orang tua dan anak melalui penerimaan (acceptance), awarness (kepedulian) dan sikap responsif (responsiveness) terhadap kebutuhan anak serta tersedianya batasan-batasan yang diwujudkan melalui tuntutan dan kontrol.
Tuntutan disini maksudnya adalah anak diberikan tugas namun harus disertai dengan tanggung jawab dan konsekuensi. Sedangkan kontrol berarti orang tua harus tetap mengawasi dan mengarahkan anak. Penerapan parenting dipengaruhi oleh pola asuh yang dianut oleh orang tua (Nooraini, 2017). Sebagaimana riset beberapa peneliti membuktikan bahwaaftar dukungan orang tua memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keberhasilan anak dalam belajar virtual (Borup et al., 2014; Liu & Cavanaugh, 2011; Lee & Figueroa, 2012; Makrooni, 2019; Woofter, 2019).
Ada beberapa faktor yang memengaruhi pola asuh orang tua, diantaranya adalahlingkungan tempat tinggaldan pendidikan orang tua. Anak-anak yang tinggal di kota besar, bisa jadi akan mendapatkan kontrol yang lebih ketat dari orang tuanya termasuk dalam pergaulan sosialnya. Termasuk di masa pandemi ini, dimana semua orang diharapkan tetap tinggal di rumah untuk menghindari kontak sosial dengan orang banyak. Di samping itu, faktor tingkat pendidikan orang tua juga memengaruhi pola asuh yang diterapkan pada anak. Semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, capaian perkembangan anak semakin baik (Apriastuti, 2013).
- KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa gaya pola asuh orang tua terhadap pembelajaran daring pada AUD di Masa Pandemi Covid 19 mayoritas orangtua masih ragu-ragu. Sebagaimana telah dijelaskan, gaya pola asuh terbagi menjadi dua, yaitu permisif dan otoriter. Oleh karena itu, baik orang tua yang otoriter maupun permisif sama-sama memiliki gaya pola asuh yang belum siap dalam menghadapi pembelajaran secara daring.
Berdasarkan hasil penelitian analisis data dan kesimpulan di atas maka peneliti mengajukan beberapa rekomendasi sebagai berikut: 1) Pembelajaran daring pada anak AUD sebaiknya disesuaikan dengan materi yang mudah dipahami orang tua anak; 2) Gaya pola asuh orang tua sebaiknya berfokus pada perubahan yang baik dalam belajar anak atau membuka wawasan diri untuk menerima pembelajaran daring.
- DAFTAR PUSTAKA
Aboderin, O. S. (2015). Challenges and prospects of e-learning at National Open University of Nigeria. Journal of Education and Learning, 9(3), 207–216.
Allen, J. (2016). Developing digital literacy skills through guided reading. Florida Read. Journal, 15(1), 16–20.
Almaiah, M. A., Al-Khasawneh, A., & Althunibat, A. (2020). Exploring the critical challenges and factors influencing the E-learning system usage during COVID-19 pandemic. Education and Information Technologies, 25, 5261–5280.
Apriastuti, D. A. (2013). Analisis tingkat pendidikan dan pola asuh orang tua dengan perkembangan anak usia 48–60 bulan. Jurnal Ilmiah Kebidanan, 4(1), 1–14.
Baumrind, D. (1991). The influence of parenting style on adolescent competence and substance use. The Journal of Early Adolescence, 11(1), 56–95.
Borup, J., West, R. E., Graham, C. R., & Davies, R. S. (2014). The adolescent community of engagement framework: A lens for research on K-12 online learning. Journal of Technology and Teacher Education, 22(1), 107–129.
Cahyati, N., & Kusumah, R. (2020). Peran orang tua dalam menerapkan pembelajaran di rumah saat pandemi Covid 19. Jurnal Golden Age, 4(01), 152–159.
Cesur, R., Dursun, B., & Mocan, N. (2014). The impact of education on health and health behavior in a middle-income, low-education country. National Bureau of Economic Research.
Christner N, Essler S, Hazzam A, P. M. (2021). Children‟s psychological well-being and problem behavior during the COVID-19 pandemic: An online study during the lockdown period in Germany. PloS One, 16(6). https://doi.org/https://doi.org/10.1371/journal.pone .0253473.
Coates, H. (2017). Productivity in higher education: Research insights for universities and governments in Asia. Tokyo: Asian Productivity Organisation.
Cohen, J., & Kupferschmidt, K. (2020). Countries test tactics in ‘war’against COVID-19. American Association for the Advancement of Science.
Dai, L., & Wang, L. (2015). Review of family functioning. Open Journal of Social Sciences, 3(12), 134.
Daniel S. J. (2020). Education and the COVID-19 pandemic. In Prospects (pp. 1–6). Advance online publication. https://doi.org/https://doi.org/10.1007/s11125-020-09464-3
Darta, H. M. (2011). Six Pillars of Positive Parenting. Cicero Publishing.
Garbe, A., ogurlu, U., Logan, N., & Cook, P. (2020). Parents’ Experiences with Remote Education during COVID-19 School Closures. American Journal of Qualitative Research, 4(3), 45–65. https://doi.org/10.29333/ajqr/8471
Gritsenko, V., Skugarevsky, O., Konstantinov, V., Khamenka, N., Marinova, T., Reznik, A., & Isralowitz, R. (2020). COVID 19 fear, stress, anxiety, and substance use among Russian and Belarusian university students. International Journal of Mental Health and Addiction, 1–7.
Gusmaniarti, G., & Suweleh, W. (2019). Analisis Perilaku Home Service Orang Tua terhadap Perkembangan Kemandirian dan Tanggung Jawab Anak. Journal on Early Childhood, 2(1).
Handarini, O. I. (2020). Pembelajaran Daring Sebagai Upaya Study From Home (SFH) Selama Pandemi Covid 19. Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran (JPAP), 8(3).
Harahap, S. A., Dimyati, D., & Purwanta, E. (2021). Problems of Early Childhood Online and Offline Learning for Teachers and Parents during the Covid 19 Pandemic. Obsession Journal: Journal of Early Childhood Education, 5(2), 1825–1836.
Harmaini, H. (2013). Keberadaan Orang Tua Bersama Anak. Jurnal Psikologi, 9(2), 80–93.
Hewi, L., & Asnawati, L. (2020). Strategi Pendidik Anak Usia Dini Era Covid-19 dalam Menumbuhkan Kemampuan Berfikir Logis. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 158–167.
Jalal, M. (2020). Kesiapan guru menghadapi pembelajaran jarak jauh di masa covid-19. SMART KIDS: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 2(1), 35–40.
Jannah, R., & Santoso, H. (2021). Tingkat stres mahasiswa mengikuti pembelajaran daring pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Riset Dan Pengabdian Masyarakat, 1(1), 130–146.
Johari Talib, Z. M., & Mamat, M. (2011). Effects of parenting style on children development. World Journal of Social Sciences, 1(2), 14–35.
Kemendikbud. (2020). UU No.1/Kb/2020 Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran 2020/2021 Dan Tahun Akademik 2020/2021 Di Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). 53(9), 1689–1699.
Kumar, A., & Nayer, K. R. (2020). Covid-19 and its mental health consequences. (Abingdon, England). Journal of Mental Health, 0(0), 1–2. https://doi.org/https://doi.org/10.1080/09638237.2020.1757052
Kurniati, E., Alfaeni, D. K. N., & Andriani, F. (2020). Analisis Peran Orang Tua dalam Mendampingi Anak di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 241–256.
Lankshear, C & Knobel, M. (2016). Digital literacy and digital literacies: Policy, pedagogy and research consideration for education. Nord. Journal Digital Literacy, 8–20.
Lee, M., & Figueroa, R. (2012). Internal and external indicators of virtual learning success: A guide to success in K-12 virtual learning. Distance Learning, 9(1), 21.
Lilawati, A. (2021). Peran Orang Tua dalam Mendukung Kegiatan Pembelajaran di Rumah pada Masa Pandemi. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1).
Limbers, C. A., McCollum, C., & Greenwood, E. (2020). Physical activity moderates the association between parenting stress and quality of life in working mothers during the COVID-19 pandemic. Mental Health and Physical Activity, 19, 100358.
Liu, F., & Cavanaugh, C. (2011). Success in online high school biology: Factors influencing student academic performance. Quarterly Review of Distance Education, 12(1), 37.
Lo Cricchio, M. G., Lo Coco, A., Cheah, C. S. L., & Liga, F. (2019). The Good Parent: Southern Italian Mothers’ Conceptualization of Good Parenting and Parent–Child Relationships. Journal of Family Issues, 40(12), 1583–1603. https://doi.org/https://doi.org/10.1177/0192513X19842598
Magta M. (2013). Ki Hajar Dewantara’s Education Concept in Early Childhood. Early Childhood Education, 7(2), 221–132. https://doi.org/https://doi.org/https://doi.org/10.21009/JPUD.072.02
Makrooni, G. (2019). Being a first-generation migrant family student in Finland: Perceptions and experiences of the educational journey to higher education. Journal of Ethnic and Cultural Studies, 6(3), 157–170.
Midun, H., Rorimpandey, W., Mamuaja, F., & Oentoe, F. (2021). Parenting Model on Children’s Learning Activities at Home during the Covid-19 Pandemic: A Case Study.
Noble, et. al. (2015). Family Income, Parental Education and Brain Structure in Children and Adolescents. Nature Reviews Neuroscience, 18(5), 773–778. https://doi.org/https://doi.org/https://doi.org/10.1038/nn.3983
Novitasari, D., & Asbari, M. (2020). Peran Kesiapan untuk Berubah terhadap Kinerja Guru di Masa Pandemi Covid-19. Journal of Industrial Engineering & Management Research, 1(2), 219–237.
Olla, M. B., Daulima, N. H. C., & Putri, Y. S. E. (2018). The experience of parents implementing authoritarian parenting for their school-age children. Enfermeria Clinica, 28, 122–125.
Ozerem, A., & Akkoyunlu, B. (2015). Öğrenme Stillerine Gore Tasarlanan Öğrenme Ortamları Ve Matematik Başarısına Etkisi. Egitim Arastirmalari. Eurasian Journal of Educational Research, 15(61), 61–80.
Praherdhiono, H., Adi, E. P., Prihatmoko, Y., Nindigraha, N., Soepriyanto, Y., Indreswari, H., & Oktaviani, H. I. (2020). Implementasi Pembelajaran Di Era Dan Pasca Pandemi Covid-19. Seribu Bintang.
Raaper, R., & Brown, C. (2020). The Covid-19 pandemic and the dissolution of the university campus: Implications for student support practice. Journal of Professional Capital and Community.
Rani, R. (2012). Amazing Parenting. PT. Noura Books.
Sáng, P. (2019). Developing Creativity for Children : Role of Parents.
Semiawan, C. (2008). Penerapan Pembelajaran pada Anak. Indeks.
Singh, S., Roy, M. D., Sinha, C. P. T. M. K., Parveen, C. P. T. M. S., Sharma, C. P. T. G., & Joshi, C. P. T. G. (2020). Impact of COVID-19 and lockdown on mental health of children and adolescents: A narrative review with recommendations. Psychiatry Research, 113429.
Skinner, E., Johnson, S., & Snyder, T. (2005). Six dimensions of parenting: A motivational model. Parenting: Science and Practice, 5(2), 175–235.
Smetana, J. G. (2017). Current research on parenting styles, dimensions, and beliefs. Current Opinion in Psychology, 15, 19–25.
Soekirman, S. (2000). Ilmu gizi dan aplikasinya untuk keluarga dan masyarakat. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Sudijono, A. (2014). Pengantar statistik Pendidika. Rajawali Pers.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta.
Susanto, E., & Suyadi, S. (2020). The Role of Parents’ Attention in the Moral Development of Children in the Amid of COVID-19 Pandemic. Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, 4(3), 355–359.
Susilowati, E. (2021). Peranan Keluarga Menghadapi Pandemi Covid-19 Di Indonesia”. Dalam Fahrudin, et al. (eds.), Covid-19 Pandemi DalamBanyak Wajah (pp. 111–117). PT Rajagrafindo Persada.
UNESCO. (2020). Reopening schools: When, where and how?
UNICEF. (2020). Kiat Pengasuhan di Tengah Wabah Virus Corona (COVID-19). Unicef. Org.
van Nunen, K., Kaerts, N., Wyndaele, J.-J., Vermandel, A., & Hal, G. Van. (2015). Parents’ views on toilet training (TT) A quantitative study to identify the beliefs and attitudes of parents concerning TT. Journal of Child Health Care, 19(2), 265–274.
Viner, R. M., Russell, S. J., Croker, H., Packer, J., Ward, J., Stansfield, C., Mytton, O., Bonell, C., & Booy, R. (2020). School closure and management practices during coronavirus outbreaks including COVID-19: a rapid systematic review. The Lancet Child & Adolescent Health, 4(5), 397–404.
Vollmer, R. L., & Mobley, A. R. (2013). Parenting styles, feeding styles, and their influence on child obesogenic behaviors and body weight. A review. Appetite, 71, 232–241.
Wang, B., Li, R., Lu, Z., & Huang, Y. (2020). Does comorbidity increase the risk of patients with COVID-19: evidence from meta-analysis. Aging (Albany NY), 12(7), 6049.
WHO. (2020). Coronavirus disease (COVID-19) outbreak. Emergencies - Diseases.
Woofter, S. (2019). Book review: Building equity: Policies and practices to empower all learners. American Journal of Qualitative Research, 3(1), 136–139.
Yadav, P. P. S., & Chandola, R. (2019). Authoritarian Parenting Style And Its Effect on Self-Esteem And Coping Strategies Of 21 Year Old GirL. Global Journal For Research Analysis, 8(3).
Yulianti, R. (2014). Peranan Orang Tua Dalam Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini. Jurnal Enpowermen, 4(1).
Yusuf, S. (2006). Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. PT. Remaja Rosdakarya.
Zhu, X., & Liu, J. (2020). Education in and after Covid-19: Immediate responses and long-term visions. Postdigital Science and Education, 2(3), 695–699.
Mayoritas peserta didik terdaftar di dunia mengalami penutupan sekolah sementara selama pandemi COVID-19 dalam upaya menjaga jarak sosial dan memperlambat penularan virus (Viner et al., 2020). Hampir 200 negara dilakukan penutupan sekolah dengan lebih dari 90% peserta didik mulai dari prasekolah hingga pendidikan tinggi menghadapi ancaman terhadap proses pendidikan (UNESCO, 2020). Secara akumulatif, peserta didik sudah hampir satu tahun belajar online dari rumah.
Berdasarkan surat Surat Edaran nomor 4 tahun 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menerbitkan kebijakan berupa pelaksanaan pembelajaran di masa darurat Covid-19 dilakukan secara jarak jauh atau pembelajaran secara daring (Kemendikbud, 2020). Belajar online tidak sesederhana yang dibayangkan. Tantangan kurangnya komputer yang cukup, fasilitas internet, kurangnya akses peserta didik ke alat e-learning, biaya perangkat lunak yang tinggi, dan ketidakteraturan pasokan listrik merupakan tantangan yang signifikan (Aboderin, 2015).
Penutupan sekolah yang belum pernah terjadi sebelumnya telah mengubah kehidupan sehari-hari peserta didik, keluarga, dan para pendidik. Luar biasanya, lebih dari setengah miliar anak (Cohen & Kupferschmidt, 2020) menjadi pelajar virtual karena harus senantiasa berada dalam rumah sementara orang tua, saudara kandung, dan anggota keluarga lainnya mengambil peran baru sebagai fasilitator pembelajaran, guru semu, dan pelatih. Di masa pandemi Covid-19, keluarga yang belum maksimal menjalankan fungsi pendidikan akan mengalami kebingungan, kekhawatiran, kecemasan, stres dan ketakutan menghadapi berbagai tantangan yang dialami selama masa pandemi, terutama terkait dengan pola asuh anak dan pembelajaran dairng (Susilowati, 2021; Jannah & Santoso, 2021). Kondisi ini dapat menurunkan produktivitas pendidikan, baik dalam pelaksanaan pembelajaran, jam belajar, pelayanan dan hasil kerja lulusan (Midun et al., 2021; Coates, 2017). Penurunan produktivitas pendidikan selama pandemi disebabkan oleh siswa, guru dan lembaga pendidikan belum siap melakukan transformasi pendidikan dari offline beralih ke daring (Jalal, 2020; Novitasari & Asbari, 2020). Selain itu, orang tua juga belum menjalankan fungsi Pendidikan secara optimal, terutama orang tua yang belum memiliki literasi komputer-internet yang memadai (Allen, 2016; Lankshear & Knobel, 2016).
Secara umum, orang tua telah berperan dalam mendampingi anaknya school from home (SFH) selama masa Covid-19 (Susanto & Suyadi, 2020). Orang tua harus mencurahkan dengan penuh seluruh perhatian positif anak dan memastikannya (Singh et al., 2020). Keterlibatan orang tua dalam mendampingi belajar anak sebenarnya telah mengakar dalam budaya bangsa dan menjadi tripusat pendidikan yang dirintis oleh Ki Hajar Dewantara (Magta, 2013). Perkembangan kognitif dan neurokognitif, kepribadian, dan fungsi pendidikan juga sangat efektif dan sempurna bila dilakukan oleh orang tua dalam keluarga (Noble, 2015). Orang tua dalam keluarga juga menjadi pusat keteladanan, motivator, dan pemberi fasilitas kenyamanan belajar anak
Pola hubungan orang tua dan anak (sikap atau perlakuan orang tua dan anak) merupakan bentuk perlakuan orang tua terhadap anaknya dirumah yang mempunyai hubungan erat dengan kepribadian anak. Adapun sikap atau perlakuan orang tua menurut Hurlock antara lain: Over protection (terlalu
melindungi), Permissiveness (pembolehan), rejection (penolakan), Acceptance (penerimaan), domination (dominasi), Submission (penyerahan), Punitevennes/overdiscipline (terlalu disiplin) (Yusuf, 2006). Pola asuh dikembangkan berdasarkan komunikasi yang baik dan perhatian yang positif untuk membantu anak agar berkembang. Ketika orang tua berkomunikasi secara positif dengan anak, maka otak anak akan dinamis, responsif mau bekerjasama dan selalu berusaha dengan baik, mampu membuat pilihan dan menerapkan kebiasaan baru yang sangat baik untuk menggali segala potensi yang ada dalam diri anak (Darta, 2011). Komunikasi dengan lingkungan keluarga pada hakikatnya ikut menentukan arah dari perkembangan anak, yaitu peluang keserasian belajar pada setiap masa peka (Semiawan, 2008).
Pengasuhan dipandang paling bermanfaat bagi aspek perkembangan anak (Smetana, 2017). Psikolog menjelaskan bahwa pengasuhan anak meliputi interaksi orang tua-anak, hubungan orang tua-anak, keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak sehingga mampu membangun sosialisasi dan fungsi anak (Johari Talib & Mamat, 2011). Dimensi pengasuhan didefinisikan sebagai fitur, kualitas, skema deskriptif yang digunakan untuk menangkap sifat pengasuhan, mewakili kesatuan konsep pola asuh dibangun (Skinner et al., 2005). Perilaku dan praktik pengasuhan tertentu memengaruhi anak perkembangan dan merupakan bagian dari lingkungan pengasuhan yang lebih luas, disebut gaya pengasuhan (Vollmer & Mobley, 2013). Gaya pengasuhan pada awalnya dikonseptualisasikan sebagai transaksional terkait dengan social kompetensi, namun sebagian besar studi berfokus pada orang tua-ke-anak (Smetana, 2017). Pola asuh dapat memfasilitasi pertumbuhan yang optimal dan perkembangan anak (Olla et al., 2018). Intensitas sedang aktivitas fisik dapat mengurangi dampak negatif dari tekanan pengasuhan pada hubungan sosial dan kepuasan dengan lingkungan seseorang pada ibu bekerja selama COVID-19 pandemi (Limbers et al., 2020).
Pola asuh merupakan konsep yang dikemukakan oleh Baumrind, (1991) berdasarkan hasil penelitiannya tentang pola perilaku anak yang dibesarkan oleh orang tuanya. Ada empat jenis pola asuh, yaitu: (a) pola asuh otoritatif, (b) pola asuh permisif, (c) pola asuh terabaikan, dan (d) pola asuh otoriter. Riset menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan konsisiten antara gaya pengasuhan termasuk kesejahteraan diri, harga diri, kehatan dan perkembangan akademik. Senada dengan pendapat diatas, Thomas klasifikasi gaya komunikasi yang dilakukan oleh orang tua diseluruh dunia, termasuk di Indonesia antara lain: otoriter (memerintah, menakuti, mengancam menceramahi, menyuruh, berargumentasi, menghakimi, mengalah pada kemampuan anak, memberi cap, menganalisis, membandingkan, menyindir) dan permisif (memberikan jaminan membohongi) (Rani, 2012).
Gaya komunikasi yang digunakan orang tua membentuk gaya pengasuhan dalam mendidik anaknya. Umumnya, terdapat dua jenis gaya pengasuhan yang biasa digunakan orang tua misalnya orang tua yang terlalu ketat, terlalu disiplin, dan memperlakukan anak sebagai pihak yang harus patuh sepenuhnya. Gaya pengasuhan ini disebut gaya pengasuhan otoriter. Sebaliknya, ada orang tua yang terlalu membebaskan anaknya untuk melakukan apa saja sehingga orang lain bingung menghadapi perilaku buruk anaknya. Gaya pengasuhan ini disebut gaya pengasuhan permisif.
Tabel 1. Jenis Gaya Pengasuhan
Jenis Gaya Pengasuhan
Komunikasi Tradisional yang sering dilakukan
Otoriter
Memerintah, mengancam atau menakut-nakuti, menceramahi, menginterogasi, memberi cap, membandingkan, menghakimi, menyalahkan, mendiagnosis, memberi solusi, mengalihkan, menyindir, dan menghibur.
Permisif
Menjamin dan membohongi.
Diketahui pada saat ini, pembelajaran dilaksanakan melalui jaringan online. Pembelajaran daring merupakan sistem pembelajaran yang dilakukan dengan tidak bertatap muka langsung, tetapi menggunakan platform yang dapat membantu proses belajar mengajar yang dilakukan meskipun jarak jauh. Tujuan dari adanya pembelajaran daring ialah memberikan layanan pembelajaran bermutu dalam jaringan yang bersifat masif dan terbuka untuk menjangkau peminat ruang belajar agar lebih banyak dan lebih luas (Handarini, 2020). Oleh karena itu, peran orang tua dalam pembelajaran daring khususnya dari segi pola pengasuhan belum begitu banyak dikaji. Penelitian Yulianti menjelaskan bahwa bentuk peran orang tua sebenarnya adalah bentuk peran guru di sekolah. Peran orang tua adalah menjadi orang tua yang memotivasi dalam segala hal. Motivasi dapat diberikan dengan cara meningkatkan kebutuhan sekolah dan memberikan semangat seperti pujian atau penghargaan atas prestasi anak yang diperoleh anak. Dalam hal ini peran orang tua adalah membimbing dan memberikan motivasi kepada anak, agar anak tetap bersemangat dalam melakukan kegiatan di rumah. Pada dasarnya anak memiliki motivasi untuk melakukan suatu hal, apabila mendapatkan dorongan dari orang-orang terdekat seperti orang tua (Yulianti, 2014).
Besar kecil penghargaan yang diberikan kepada anak sangat berpengaruh bagi perkembangan anak. Orang tua juga bisa menjadi teman yang bahagia untuk belajar atau belajar. Selain itu, orang tua ditugaskan sebagai guru untuk mengajar dan mendidik anak-anak. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih sabar dalam mengajar dan membimbing sebagai tugas guru di sekolah. Dalam melaksanakan peran ini, orang tua saling melengkapi dan sangat membantu dalam memecahkan masalah dan kesulitan yang dihadapi anak di sekolah dan di rumah. Senada dengan pernyataan diatas, orang tua mempunyai peran dalam mengembangkan rasa percaya anak walau pun sebagian kecil masih ada yang mendampingi (Gusmaniarti & Suweleh, 2019).
Selain itu, pendapat Siregar (2013) menambahkan bahwa terdapat empat cara untuk meningkatkan peran orang tua dalam pendidikan anak. Pertama, mengatur jadwal kegiatan anak dan waktu anak. Anak-anak diajarkan untuk belajar tidak hanya ketika mendapatkan pekerjaan rumah dari sekolah dan saat menghadapi ujian, namun juga dilakukan setiap hari. Kedua, memantau perkembangan kemampuan akademik anak. Orang tua diminta memeriksa nilai tes dan tugas anak. Ketiga, memantau perkembangan kepribadian, termasuk sikap, moral, dan perilaku anak. Hal ini dapat dilakukan oleh orang tua dengan menghubungi guru kelas untuk belajar lebih banyak tentang aspek perkembangan anak di sekolah. Keempat, memantau efektivitas waktu di sekolah (Lilawati, 2021).
Sebagai salah satu pemangku kepentingan utama dalam proses pendidikan, pengalaman orang tua dengan anak-anak selama pembelajaran daring layak diteliti untuk menginformasikan pengambilan keputusan kebijakan di masa depan (Garbe et al., 2020). Dengan demikian, untuk mengetahui lebih jauh permasalahan yang terjadi, penulis menjabarkannya dalam penelitian dengan judul: “Gaya Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembelajaran Daring Pada AUD di Masa Pandemi Covid 19”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya pola asuh orang tua terhadap pembelajaran daring pada AUD di Masa Pandemi Covid 19.
- METODE
Penelitian ini merupakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Metode kuantitatif menurut Sugiyono (2017) dapat diartikan sebagai “Metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data
menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik.”
Penelitian ini dilakukan di Pekanbaru Provinsi Riau, mengambil populasi yang berjumlah sebanyak 32 orang tua yang memiliki anak di PAUD. Sampel adalah bagain dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampel jenuh, yakni seluruh anggota populasi dijadikan sampel penelitian. Analisis data yang digunakan adalah rumus persentase:
P =
Keterangan :
P = Tingkat persentase jawaban
F = Frekuensi jawaban
N = Jumlah sampel
(Sudijono, 2014)
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Rekapitulasi hasil tanggapan responden pada setiap butir pernyataan berkaitan dengan gaya pola asuh orang tua terhadap pembelajaran daring pada AUD di Masa Pandemi Covid 19 sebagai berikut.
Tabel 2. Gaya Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembelajaran Daring Pada AUD di Masa Pandemi Covid 19
No
Pernyataan
SS
S
R
TS
STS
M
1
Memerintah untuk belajar secara daring
8
5
2
16
1
3.09
2
Mengancam atau menakut-nakuti anak jika tidak belajar
7
7
7
9
2
3.25
3
Menceramahi anak
8
3
8
9
4
3.06
4
Memberi cap jika anak bandel
7
3
6
8
8
2.78
5
Membandingkan dengan anak yang lain
8
2
7
11
4
2.97
6
Menghakimi jika melakukan kesalahan
6
5
7
8
6
2.91
7
Menyalahkan
7
4
7
3
11
2.78
8
Memberi solusi
6
3
5
8
10
2.59
9
Menghibur jika menemui kesulitan
10
4
7
11
0
3.41
10
Mengalihkan perhatian
6
4
5
10
7
2.75
11
Menjamin
11
4
5
12
0
3.44
12
Membohongi agar belajar daring
5
5
7
12
3
2.91
Jumlah
89
49
73
117
56
35.94
Jumlah skor
445
196
219
234
56
2.99
Persentase (%)
23
13
19
30
15
Indonesia merupakan salah satu dari ratusan negara di dunia yang terdampak Covid-19. Pandemi berdampak pada proses pendidikan, ekonomi, sosial, pariwisata, dll penyebaran virus COVID-19 sangat cepat sasaran utamanya adalah masyarakat berusia >60 tahun dan anak usia dini, itu terjadi karena penurunan sistem kekebalan pada orang berusia > 60 tahun dan sistem imun yang belum sempurna yang terbentuk pada anak usia dini (WHO, 2020). Di masa pandemi Covid-19, orang tua lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dalam mendampingi kegiatan pembelajaran anak di rumah dikarenanya peran orang tua sangat diperlukan (Praherdhiono et al., 2020). Orang tua juga melakukan kontak dengan guru dan anak selama ini pandemi. Di masa pandemi bisa menjadi kesempatan emas bagi orang tua untuk berkreasi lebih banyak untuk membangun keterikatan yang sempurna dengan anak (Cesur et al., 2014). Mengingat panjangnya waktu yang dihabiskan bersama dalam masa pandemic. Orang tua perlu membuat waktu berkualitas dengan anak, untuk melakukan kegiatan bersama, seperti bermain, menanam, memasak, membersihkan rumah, beribadah maupun kegiatan lainnya (UNICEF, 2020). Kebersamaan antara orang tua dan anak sangat diperlukan untuk sarana interaksi, komunikasi, dan saling mengenal diri (Harmaini, 2013).
Keluarga adalah tempat pertama dan utama agar anak mendapatkan pendidikan, proses ini membutuhkan peran penting dari orang tua (Lo Cricchio, et al, 2019). Orang tua adalah seseorang yang bertanggung jawab atas keluarga atau pekerjaan rumah tangga yang dalam kesehariannya yang biasa disebut ayah dan ibu (van Nunen et al., 2015). Peran orang tua adalah perilaku berkaitan dengan orang tua dalam menduduki jabatan tertentu dalam lembaga keluarga yang berfungsi sebagai: pengasuh, pembimbing dan pendidik bagi anak (Yadav & Chandola, 2019). Menurut Dai & Wang (2015), menyebutkan fungsi keluarga terdirI dari dua aspek soft index antara lain: pemberian dukungan afeksi, adanya keterlibatan, control perilaku, penanaman nilai moral dan aturan, dan regid index meliputi bantuan pada problem solving, komunikasi dan pembagian tugas pada masing-masing anggota keluarga. Orang tua bisa mengajari anaknya sesuatu yang tidak didapatkan anak di sekolah, yaitu tentang kecakapan hidup (Hewi & Asnawati, 2020). Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak anak untuk merapikan tempat tidur, membuat mainan atau belajar mandiri, mengenal diri sendiri, mengungkapkan perasaan, tumbuh jiwa wirausaha anak sejak dini dan seterusnya. Kegiatan yang bervariasi dan inovasi dapat mengembangkan minat, bakat dan potensi yang dimiliki anak sehingga menghasilkan soft skill anak (Kurniati et al., 2020).
Selama pandemic, melakukan kegiatan bersama baik dalam bentuk permainan maupun kegiatan lain, dapat membantu anak untuk mengeksplorasi diri dan lingkungan sosialnya. Karena selama pandemic, anak telah kehilangan interaksi anak dengan teman sebayanya (Kumar & Nayer, 2020). Kebersamaan dan keakraban dalam melakukan kegiatan bersama dapat membangun suasana keluarga yang positif (Bluth & Wahler, 2011), terciptanya pengasuhan positif (Kurniati et al., 2020) sebagai wujud ungkapan kasih sayang, pemberian kenyamanan dan keamanan pada anak
Peran orang tua di masa pandemi juga telah dibuktikan oleh berbagai penelitian sebelumnya. Orang tua berperan sebagai mentor, pendidik, pengasuh, pengembang, dan pengawas (Kurniati et al., 2020). Dampak positif belajar dari rumah adalah orang tua dapat meningkatkan hubungan dengan anak dan dapat melihat secara langsung perkembangan kemampuan belajar anaknya (Cahyati & Kusumah, 2020). Belajar merupakan proses yang sangat rumit. Tidak hanya berfokus pada pencapaian prestasi, namun meningkatkan aspek perkembangan anak yang lebih kompleks, serta membangun karakteristik yang tepat. Belajar berkaitan dengan keterampilan umum, proses kognitif, emosi, motivasi, aspek perkembangan, kesiapan, pengalaman anak, lingkungan sosial, dan komunitas budaya merupakan variabel yang mempengaruhi proses belajar (Ozerem & Akkoyunlu, 2015).
Pada hakikatnya, orang tua menggabungkan materi dari guru dan dengan kreativitasnya. Pendidikan inovatif menjadi perhatian utama dalam mengasuh, mengajari dan mendampingi anak saat ini (Sáng, 2019). Orang tua menjadi guru pengganti kegiatan untuk menjamin terselenggaranya pembelajaran dan kerjasama pendidik (Harahap et al., 2021). Sedangkan parent dalam parenting memiliki beberapa definisi ibu-ayah, sosok yang akan membimbing dalam kehidupan baru, seorang penjaga, maupun seorang pelindung. Parent adalah seseorang yang mendampingi dan membimbing semua tahapan pertumbuhan anak, yang merawat, melindungi, mengarahkan kehidupan baru anak dalam setiap tahapan perkembangannya (Brooks, 2001 dalam Nooraini, 2017).
Perubahan model pembelajaran yang muncul tiba-tiba tak luput dari berbagai tantangan. Khususnya bagi peserta didik, guru, dan orang tua terhadap pembelajaran online termasuk mengalami perubahan emosional seperti: stres (Wang et al., 2020); cemas (Gritsenko et al., 2020) tantangan teknologi dan internet tantangan (Almaiah et al., 2020; Zhu & Liu, 2020) penurunan kesehatan mental dan motivasi (Raaper & Brown, 2020).
Berdasarkan uraian data hasil penelitian diketahui bahwa gaya pola asuh orang tua terhadap pembelajaran daring pada AUD di Masa Pandemi Covid 19 mayoritas orang tua masih Ragu-ragu. Sepertinya orang tua belum memahami tentang arti belajar. Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang pada dasarnya sangat beragam, baik sifat maupun jenisnya. Oleh karena itu, sudah tentu setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar. Demikian halnya dengan belajar secara daring. Sejalan dengan penelitian dari Daniel (2020) mengungkapkan orang tua cemas tentang masa depan anak, dukungan sekolah dengan motivasi rendah dapat menjadi tantangan.
Parenting dapat diartikan sebagai keorangtuaan atau pengasuhan orang tua, maksudnya adalah proses interaksi antara orang tua dengan anak. Kegiatan parenting meliputi memberi makan (nourishing), memberi petunjuk (guiding), dan melindungi (protecting) anak-anak. Kegiatan parenting umumnya dilakukan dalam keluarga, namun sekarang parenting tidak berarti yang melahirkan anak.
Pada awalnya parenting dipahami sebagai kemampuan orang tua untuk menyediakan waktu, perhatian dan dukungan kepada anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, baik fisik, mental (moral), dan sosial (Soekirman, 2000). Namun dalam perkembangan selanjutnya, konsep parenting adalah lebih luas dari kesediaan (waktu) orang tua untuk mendidik anaknya. Pengasuhan berhubungan dengan fungsi pendidikan yang dimiliki orang tua dalam keluarga. Oleh karena itu, pola asuh berhubungan dengan pendekatan, metode dan strategi yang digunakan orang tua dalam mendidik anaknya. Model pola asuh (pendekatan, metode, strategi) bagi anak sangat mempengaruhi kognitif, perkembangan mental, dan sosial anak. Penelitian yang dilakukan (Christner, et al, 2021) mengungkapkan bahwa banyak anak yang mengalami stres saat belajar di rumah, bukan hanya karena tidak bisa bertemu dan bermain dengan teman-teman di sekolah, namun juga karena orang tua belum menemukan cara terbaik membimbing untuk belajar.
Parenting juga dapat dilakukan di masyarakat diantaranya melalui PAUD, pengasuhan bayi (baby daycare ataupun menggunakan jasa baby sitter) maupun melalui media massa. Parenting yang baik adalah membangun relasi (hubungan) yang hangat antara orang tua dan anak melalui penerimaan (acceptance), awarness (kepedulian) dan sikap responsif (responsiveness) terhadap kebutuhan anak serta tersedianya batasan-batasan yang diwujudkan melalui tuntutan dan kontrol.
Tuntutan disini maksudnya adalah anak diberikan tugas namun harus disertai dengan tanggung jawab dan konsekuensi. Sedangkan kontrol berarti orang tua harus tetap mengawasi dan mengarahkan anak. Penerapan parenting dipengaruhi oleh pola asuh yang dianut oleh orang tua (Nooraini, 2017). Sebagaimana riset beberapa peneliti membuktikan bahwaaftar dukungan orang tua memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keberhasilan anak dalam belajar virtual (Borup et al., 2014; Liu & Cavanaugh, 2011; Lee & Figueroa, 2012; Makrooni, 2019; Woofter, 2019).
Ada beberapa faktor yang memengaruhi pola asuh orang tua, diantaranya adalahlingkungan tempat tinggaldan pendidikan orang tua. Anak-anak yang tinggal di kota besar, bisa jadi akan mendapatkan kontrol yang lebih ketat dari orang tuanya termasuk dalam pergaulan sosialnya. Termasuk di masa pandemi ini, dimana semua orang diharapkan tetap tinggal di rumah untuk menghindari kontak sosial dengan orang banyak. Di samping itu, faktor tingkat pendidikan orang tua juga memengaruhi pola asuh yang diterapkan pada anak. Semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, capaian perkembangan anak semakin baik (Apriastuti, 2013).
- KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa gaya pola asuh orang tua terhadap pembelajaran daring pada AUD di Masa Pandemi Covid 19 mayoritas orangtua masih ragu-ragu. Sebagaimana telah dijelaskan, gaya pola asuh terbagi menjadi dua, yaitu permisif dan otoriter. Oleh karena itu, baik orang tua yang otoriter maupun permisif sama-sama memiliki gaya pola asuh yang belum siap dalam menghadapi pembelajaran secara daring.
Berdasarkan hasil penelitian analisis data dan kesimpulan di atas maka peneliti mengajukan beberapa rekomendasi sebagai berikut: 1) Pembelajaran daring pada anak AUD sebaiknya disesuaikan dengan materi yang mudah dipahami orang tua anak; 2) Gaya pola asuh orang tua sebaiknya berfokus pada perubahan yang baik dalam belajar anak atau membuka wawasan diri untuk menerima pembelajaran daring.
- DAFTAR PUSTAKA
Aboderin, O. S. (2015). Challenges and prospects of e-learning at National Open University of Nigeria. Journal of Education and Learning, 9(3), 207–216.
Allen, J. (2016). Developing digital literacy skills through guided reading. Florida Read. Journal, 15(1), 16–20.
Almaiah, M. A., Al-Khasawneh, A., & Althunibat, A. (2020). Exploring the critical challenges and factors influencing the E-learning system usage during COVID-19 pandemic. Education and Information Technologies, 25, 5261–5280.
Apriastuti, D. A. (2013). Analisis tingkat pendidikan dan pola asuh orang tua dengan perkembangan anak usia 48–60 bulan. Jurnal Ilmiah Kebidanan, 4(1), 1–14.
Baumrind, D. (1991). The influence of parenting style on adolescent competence and substance use. The Journal of Early Adolescence, 11(1), 56–95.
Borup, J., West, R. E., Graham, C. R., & Davies, R. S. (2014). The adolescent community of engagement framework: A lens for research on K-12 online learning. Journal of Technology and Teacher Education, 22(1), 107–129.
Cahyati, N., & Kusumah, R. (2020). Peran orang tua dalam menerapkan pembelajaran di rumah saat pandemi Covid 19. Jurnal Golden Age, 4(01), 152–159.
Cesur, R., Dursun, B., & Mocan, N. (2014). The impact of education on health and health behavior in a middle-income, low-education country. National Bureau of Economic Research.
Christner N, Essler S, Hazzam A, P. M. (2021). Children‟s psychological well-being and problem behavior during the COVID-19 pandemic: An online study during the lockdown period in Germany. PloS One, 16(6). https://doi.org/https://doi.org/10.1371/journal.pone .0253473.
Coates, H. (2017). Productivity in higher education: Research insights for universities and governments in Asia. Tokyo: Asian Productivity Organisation.
Cohen, J., & Kupferschmidt, K. (2020). Countries test tactics in ‘war’against COVID-19. American Association for the Advancement of Science.
Dai, L., & Wang, L. (2015). Review of family functioning. Open Journal of Social Sciences, 3(12), 134.
Daniel S. J. (2020). Education and the COVID-19 pandemic. In Prospects (pp. 1–6). Advance online publication. https://doi.org/https://doi.org/10.1007/s11125-020-09464-3
Darta, H. M. (2011). Six Pillars of Positive Parenting. Cicero Publishing.
Garbe, A., ogurlu, U., Logan, N., & Cook, P. (2020). Parents’ Experiences with Remote Education during COVID-19 School Closures. American Journal of Qualitative Research, 4(3), 45–65. https://doi.org/10.29333/ajqr/8471
Gritsenko, V., Skugarevsky, O., Konstantinov, V., Khamenka, N., Marinova, T., Reznik, A., & Isralowitz, R. (2020). COVID 19 fear, stress, anxiety, and substance use among Russian and Belarusian university students. International Journal of Mental Health and Addiction, 1–7.
Gusmaniarti, G., & Suweleh, W. (2019). Analisis Perilaku Home Service Orang Tua terhadap Perkembangan Kemandirian dan Tanggung Jawab Anak. Journal on Early Childhood, 2(1).
Handarini, O. I. (2020). Pembelajaran Daring Sebagai Upaya Study From Home (SFH) Selama Pandemi Covid 19. Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran (JPAP), 8(3).
Harahap, S. A., Dimyati, D., & Purwanta, E. (2021). Problems of Early Childhood Online and Offline Learning for Teachers and Parents during the Covid 19 Pandemic. Obsession Journal: Journal of Early Childhood Education, 5(2), 1825–1836.
Harmaini, H. (2013). Keberadaan Orang Tua Bersama Anak. Jurnal Psikologi, 9(2), 80–93.
Hewi, L., & Asnawati, L. (2020). Strategi Pendidik Anak Usia Dini Era Covid-19 dalam Menumbuhkan Kemampuan Berfikir Logis. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 158–167.
Jalal, M. (2020). Kesiapan guru menghadapi pembelajaran jarak jauh di masa covid-19. SMART KIDS: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 2(1), 35–40.
Jannah, R., & Santoso, H. (2021). Tingkat stres mahasiswa mengikuti pembelajaran daring pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Riset Dan Pengabdian Masyarakat, 1(1), 130–146.
Johari Talib, Z. M., & Mamat, M. (2011). Effects of parenting style on children development. World Journal of Social Sciences, 1(2), 14–35.
Kemendikbud. (2020). UU No.1/Kb/2020 Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran 2020/2021 Dan Tahun Akademik 2020/2021 Di Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). 53(9), 1689–1699.
Kumar, A., & Nayer, K. R. (2020). Covid-19 and its mental health consequences. (Abingdon, England). Journal of Mental Health, 0(0), 1–2. https://doi.org/https://doi.org/10.1080/09638237.2020.1757052
Kurniati, E., Alfaeni, D. K. N., & Andriani, F. (2020). Analisis Peran Orang Tua dalam Mendampingi Anak di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 241–256.
Lankshear, C & Knobel, M. (2016). Digital literacy and digital literacies: Policy, pedagogy and research consideration for education. Nord. Journal Digital Literacy, 8–20.
Lee, M., & Figueroa, R. (2012). Internal and external indicators of virtual learning success: A guide to success in K-12 virtual learning. Distance Learning, 9(1), 21.
Lilawati, A. (2021). Peran Orang Tua dalam Mendukung Kegiatan Pembelajaran di Rumah pada Masa Pandemi. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1).
Limbers, C. A., McCollum, C., & Greenwood, E. (2020). Physical activity moderates the association between parenting stress and quality of life in working mothers during the COVID-19 pandemic. Mental Health and Physical Activity, 19, 100358.
Liu, F., & Cavanaugh, C. (2011). Success in online high school biology: Factors influencing student academic performance. Quarterly Review of Distance Education, 12(1), 37.
Lo Cricchio, M. G., Lo Coco, A., Cheah, C. S. L., & Liga, F. (2019). The Good Parent: Southern Italian Mothers’ Conceptualization of Good Parenting and Parent–Child Relationships. Journal of Family Issues, 40(12), 1583–1603. https://doi.org/https://doi.org/10.1177/0192513X19842598
Magta M. (2013). Ki Hajar Dewantara’s Education Concept in Early Childhood. Early Childhood Education, 7(2), 221–132. https://doi.org/https://doi.org/https://doi.org/10.21009/JPUD.072.02
Makrooni, G. (2019). Being a first-generation migrant family student in Finland: Perceptions and experiences of the educational journey to higher education. Journal of Ethnic and Cultural Studies, 6(3), 157–170.
Midun, H., Rorimpandey, W., Mamuaja, F., & Oentoe, F. (2021). Parenting Model on Children’s Learning Activities at Home during the Covid-19 Pandemic: A Case Study.
Noble, et. al. (2015). Family Income, Parental Education and Brain Structure in Children and Adolescents. Nature Reviews Neuroscience, 18(5), 773–778. https://doi.org/https://doi.org/https://doi.org/10.1038/nn.3983
Novitasari, D., & Asbari, M. (2020). Peran Kesiapan untuk Berubah terhadap Kinerja Guru di Masa Pandemi Covid-19. Journal of Industrial Engineering & Management Research, 1(2), 219–237.
Olla, M. B., Daulima, N. H. C., & Putri, Y. S. E. (2018). The experience of parents implementing authoritarian parenting for their school-age children. Enfermeria Clinica, 28, 122–125.
Ozerem, A., & Akkoyunlu, B. (2015). Öğrenme Stillerine Gore Tasarlanan Öğrenme Ortamları Ve Matematik Başarısına Etkisi. Egitim Arastirmalari. Eurasian Journal of Educational Research, 15(61), 61–80.
Praherdhiono, H., Adi, E. P., Prihatmoko, Y., Nindigraha, N., Soepriyanto, Y., Indreswari, H., & Oktaviani, H. I. (2020). Implementasi Pembelajaran Di Era Dan Pasca Pandemi Covid-19. Seribu Bintang.
Raaper, R., & Brown, C. (2020). The Covid-19 pandemic and the dissolution of the university campus: Implications for student support practice. Journal of Professional Capital and Community.
Rani, R. (2012). Amazing Parenting. PT. Noura Books.
Sáng, P. (2019). Developing Creativity for Children : Role of Parents.
Semiawan, C. (2008). Penerapan Pembelajaran pada Anak. Indeks.
Singh, S., Roy, M. D., Sinha, C. P. T. M. K., Parveen, C. P. T. M. S., Sharma, C. P. T. G., & Joshi, C. P. T. G. (2020). Impact of COVID-19 and lockdown on mental health of children and adolescents: A narrative review with recommendations. Psychiatry Research, 113429.
Skinner, E., Johnson, S., & Snyder, T. (2005). Six dimensions of parenting: A motivational model. Parenting: Science and Practice, 5(2), 175–235.
Smetana, J. G. (2017). Current research on parenting styles, dimensions, and beliefs. Current Opinion in Psychology, 15, 19–25.
Soekirman, S. (2000). Ilmu gizi dan aplikasinya untuk keluarga dan masyarakat. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Sudijono, A. (2014). Pengantar statistik Pendidika. Rajawali Pers.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta.
Susanto, E., & Suyadi, S. (2020). The Role of Parents’ Attention in the Moral Development of Children in the Amid of COVID-19 Pandemic. Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, 4(3), 355–359.
Susilowati, E. (2021). Peranan Keluarga Menghadapi Pandemi Covid-19 Di Indonesia”. Dalam Fahrudin, et al. (eds.), Covid-19 Pandemi DalamBanyak Wajah (pp. 111–117). PT Rajagrafindo Persada.
UNESCO. (2020). Reopening schools: When, where and how?
UNICEF. (2020). Kiat Pengasuhan di Tengah Wabah Virus Corona (COVID-19). Unicef. Org.
van Nunen, K., Kaerts, N., Wyndaele, J.-J., Vermandel, A., & Hal, G. Van. (2015). Parents’ views on toilet training (TT) A quantitative study to identify the beliefs and attitudes of parents concerning TT. Journal of Child Health Care, 19(2), 265–274.
Viner, R. M., Russell, S. J., Croker, H., Packer, J., Ward, J., Stansfield, C., Mytton, O., Bonell, C., & Booy, R. (2020). School closure and management practices during coronavirus outbreaks including COVID-19: a rapid systematic review. The Lancet Child & Adolescent Health, 4(5), 397–404.
Vollmer, R. L., & Mobley, A. R. (2013). Parenting styles, feeding styles, and their influence on child obesogenic behaviors and body weight. A review. Appetite, 71, 232–241.
Wang, B., Li, R., Lu, Z., & Huang, Y. (2020). Does comorbidity increase the risk of patients with COVID-19: evidence from meta-analysis. Aging (Albany NY), 12(7), 6049.
WHO. (2020). Coronavirus disease (COVID-19) outbreak. Emergencies - Diseases.
Woofter, S. (2019). Book review: Building equity: Policies and practices to empower all learners. American Journal of Qualitative Research, 3(1), 136–139.
Yadav, P. P. S., & Chandola, R. (2019). Authoritarian Parenting Style And Its Effect on Self-Esteem And Coping Strategies Of 21 Year Old GirL. Global Journal For Research Analysis, 8(3).
Yulianti, R. (2014). Peranan Orang Tua Dalam Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini. Jurnal Enpowermen, 4(1).
Yusuf, S. (2006). Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. PT. Remaja Rosdakarya.
Zhu, X., & Liu, J. (2020). Education in and after Covid-19: Immediate responses and long-term visions. Postdigital Science and Education, 2(3), 695–699.